Perjalanan tanpa direncanakan sebelumnya, mengikuti ajakan salah seorang rekan yang berkecimpung di bidang PJTKI untuk mengunjungi beberapa sponsor di Indramayu. Maka berangkatlah saya dan beberapa teman.
Niat saya untuk ikut hanya untuk sekedar jalan-jalan membebaskan fikiran dari sumpeknya kerjaan. Namun ternyata ada nilai plus tak terduga. Rumah salah satu sponsor terletak di dekat laut. Hah?? Laut??
Semangat saya langsung berlipat dan menggebu-gebu. Kapan terakhir kali saya melihat laut? Seingat saya, dua tahun yang lalu saat ke Sukabumi bersama Kang Saprol. Itu juga sekedar lewat, melihat dari kejauhan.
Saya seperti anak kecil, tak sabar dengan prosesi bertamu dan beramah-tamah dengan tuan rumah. Lalu saya mengajak salah seorang saudara tuan rumah untuk mengajak saya ke laut. Pertama kami ke pelabuhan, membeli ikan untuk acara bakar ikan. Di pelabuhan, saya belum bisa menyentuh airnya, hanya bisa menikmati suasana yang saya rindukan sambil berdiri di atas pemecah ombak dan memperhatikan aktifitas para nelayan mempersiapkan perahu.
Setelah membeli ikan, kami menuju sebuah tempat terpencil. Saking terpencilnya, kami terpaksa meninggalkan mobil dan berjalan 200 meter di pematang sawah menuju laut. Sebuah pemandangan kontras, sawah bertemu laut. Hampir tanpa pantai, airnya juga kotor sehingga tidak bisa dipergunakan untuk mandi, namun tidak mengurangi semangat saya untuk turun dan bermain-main. Puaassss…… 
Hasil oleh-oleh saat ikut mengantri tiket pertandingan final Uber Cup tadi malam.


Klik Gambar Untuk Memperbesar
Para pengantri tiket yang berdiri di barisan depan adalah mereka yang telah antri sejak matahari belum terbangun, dan mereka rela dihantam panas, letih, haus demi mendapatkan tiket untuk menyaksikan aksi srikandi-srikandi Badminton Indonesia berlaga di final. Tak satupun aparat keamanan maupun panitia melongok untuk memberi informasi jam berapa loket dibuka, atau sekedar mencari tahu keadaan mereka.
Loket dibuka pukul 13.00, tiket ludes dalam hitungan menit. Saya yang tidak ikut mengantri, hanya melihat beberapa orang yang berhasil membeli tiket tersebut. Anggaplah ada seratus orang yang berhasil membeli tiket dan masing-masin dari mereka membeli dua lembar tiket (batas maksimal yang ditetapkan panitia), jadi apakah loket tersebut hanya menjual 200 tiket? Lalu di mana lagi tiketnya dijual?
Ada salah seorang pembeli tiket “jalan belakang” yang mengaku membeli tiket dari salah seorang aparat kemanan seharga Rp. 125.000. Jadi sejak kapan aparat kemanan berfungsi ganda sebagai penjual tiket? Dengan harga yang mahal pula… 
Antisipasi panitia terhadap membludaknya pembeli tiket juga Nol Besar, sama sekali tidak mempedulikan nasib mereka yang dengan penuh semangat berdiri dalam antrian –yang lebih tepat disebut kerumunan– dari pagi buta hingga siang, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan yel yel penyemangat, berdesak-desakan hingga beberapa diantaranya ada yang jatuh pingsan. Bahkan di antrian sebelah kanan, para pembeli yang telah berhasil mendapatkan tiket harus keluar dari barisan dengan menaiki pagar setinggi 2 meter karena tidak ada jalan keluar (lihat foto-foto di atas).
Lagi-lagi rakyat kecil dikesampingkan. Jika memang saat itu panitia hanya menjual sedikit tiket –entah sebagian besarnya dijual melalui jalur apa– mengapa masih tega membiarkan rakyat kecil mengantri seperti itu? Ini adalah event Internasional, Bung!