27 May 2008
Mahasiswa, dalam sejarah beberapa tahun belakangan ini memberikan kontribusi dan jasa yang sangat besar. Aktifitas menyuarakan suara rakyat selama ini sebagian besar dipelopori oleh mahasiswa. Untuk hal ini, sebagai rakyat biasa, saya ucapkan terima kasih banyak.
Namun sebagai rakyat biasa pula, saya menolak tindakan demonstrasi yang disertai dengan tindakan anarkis, mengganggu kepentingan umum secara berlebihan, apalagi disertai dengan merusak fasilitas yang sering saya dan rakyat biasa lain gunakan.
Jika Anda para kaum intelektual mengaku berdemo untuk menyuarakan suara rakyat, tolong jangan disertai tindakan yang mengganggu aktifitas rakyat. Memblokir jalan serta mengusir saya dan rakyat biasa lain yang ingin melewati jalan umum (yang saat itu sepertinya Anda anggap mutlak milik Anda) sepertinya merupakan tindakan yang bertolak belakang dengan pernyataan Anda yang mengaku sedang membela kami. Mata kami perih melihat emosi Anda yang terlalu berlebihan. Jangan berdemo atas nama kami jika aktifitas demo tersebut lebih Anda gunakan sebagai sarana penyaluran emosi. Kami sudah cukup kelimpungan dengan kondisi negeri.
Kategori Catatan: Meracau | 1 Komentar »
18 May 2008
Hasil oleh-oleh saat ikut mengantri tiket pertandingan final Uber Cup tadi malam.


Klik Gambar Untuk Memperbesar
Para pengantri tiket yang berdiri di barisan depan adalah mereka yang telah antri sejak matahari belum terbangun, dan mereka rela dihantam panas, letih, haus demi mendapatkan tiket untuk menyaksikan aksi srikandi-srikandi Badminton Indonesia berlaga di final. Tak satupun aparat keamanan maupun panitia melongok untuk memberi informasi jam berapa loket dibuka, atau sekedar mencari tahu keadaan mereka.
Loket dibuka pukul 13.00, tiket ludes dalam hitungan menit. Saya yang tidak ikut mengantri, hanya melihat beberapa orang yang berhasil membeli tiket tersebut. Anggaplah ada seratus orang yang berhasil membeli tiket dan masing-masin dari mereka membeli dua lembar tiket (batas maksimal yang ditetapkan panitia), jadi apakah loket tersebut hanya menjual 200 tiket? Lalu di mana lagi tiketnya dijual?
Ada salah seorang pembeli tiket “jalan belakang” yang mengaku membeli tiket dari salah seorang aparat kemanan seharga Rp. 125.000. Jadi sejak kapan aparat kemanan berfungsi ganda sebagai penjual tiket? Dengan harga yang mahal pula… 
Antisipasi panitia terhadap membludaknya pembeli tiket juga Nol Besar, sama sekali tidak mempedulikan nasib mereka yang dengan penuh semangat berdiri dalam antrian –yang lebih tepat disebut kerumunan– dari pagi buta hingga siang, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan yel yel penyemangat, berdesak-desakan hingga beberapa diantaranya ada yang jatuh pingsan. Bahkan di antrian sebelah kanan, para pembeli yang telah berhasil mendapatkan tiket harus keluar dari barisan dengan menaiki pagar setinggi 2 meter karena tidak ada jalan keluar (lihat foto-foto di atas).
Lagi-lagi rakyat kecil dikesampingkan. Jika memang saat itu panitia hanya menjual sedikit tiket –entah sebagian besarnya dijual melalui jalur apa– mengapa masih tega membiarkan rakyat kecil mengantri seperti itu? Ini adalah event Internasional, Bung!
Kategori Catatan: Meracau | 1 Komentar »