Rewrite: 2 Tahun Dealovy & Cermin Diri

July 16, 2008 – 12:54 am

Hari ini, 16 Juli 2008 merupakan ulang tahun ke dua Dealovy. Dua tahun sudah aku dan Uni menyatukan langkah, dengan beragam transisi yang terkadang meloncat-loncat dan melangkahi beberapa anak tangga.

Selayaknya pasangan lain yang menyatukan cintanya secara sungguh-sungguh, kami juga bertekad Dealovy akan membawa kami ke pintu pernikahan yang utuh. Tekad tersebut kami terjemahkan dengan melakukan persiapan tiada henti dari segala sisi, persiapan yang akhir-akhir ini semakin menjadi karena kami telah sepakat akan merayakan ultah ke tiga Dealovy dalam status suami istri.
Sebelum 16 Juli 2009, kami harus sudah menikah.

Secara pribadi, aku semakin termantapkan dengan berjalannya perubahan-perubahan yang terjadi. Secara mendasar, Dewa dan Silvy bukanlah pasangan yang cocok secara instan. Dealovy dibangun di atas begitu banyak perbedaan dan rintangan. Namun toh kami mampu melewati, menjalani, dan memperbaikinya. Bagiku ini adalah salah satu prestasi terbesar dalam hidup, seorang Dewa telah banyak berubah setelah terkena “radiasi” Dealovy yang banyak menyimpan makna dan pelajaran tersembunyi, dan aku mengalami pergeseran menjadi manusia yang lebih baik dalam bersikap, bergaul, memandang sesuatu, dan memelihara prinsip.

Secara hakikat ini adalah kehendak-Nya. Secara syari’at ini adalah buah dari kehadiran sesosok gadis bernama Silvy Ariyanti dalam hidupku.

Terima kasih, UCha. Terima kasih karena tetap dan selalu menerima Uda apa adanya, Selamat Hari Jadi… :-*

Catatan diatas merupakan publikasi ulang dari catatan yang saya buat di Blog Dealovy, dibuat jhusus untuk memperingati 2 tahun hubungan saya dan Uni Silvy.

Sarno dan Pemulung

June 30, 2008 – 5:26 pm

Sarno adalah penjaga rumah di tempat saya bekerja. Calon ayah yang baru berusia 25 tahun ini baru bekerja selama 4 bulan di sini. Berasal dari desa, dengan pola fikir sederhana yang membuatnya seperti selalu menikmati hidup dalam kondisi apapun.Dia pernah punya cita-cita yang –sayangnya– tidak tercapai, yaitu menjadi seorang Satpam. Saking terobsesinya, Sarno pernah meminta saya untuk memotretnya yang sedang mengenakan seragam Satpam pinjaman.  Pak Solah yang akut penyakit usilnya bahkan memajang hasil cetak foto tersebut di pintu =))

Sore ini, saat saya sedang asyik mengotak-atik salah satu blog, Sarno yang sedang mencuci mobil tiba-tiba berlari masuk dan langsung menuju ke gudang. Dia keluar membawa sekarung lebih botol dan barang-barang bekas. Tertarik dengan apa yang sedang dia lakukan, saya mengikutinya keluar.

Ternyata barang-barang bekas tersebut dia berikan kepada seorang pemulung yang hanya memiliki satu kaki. Pemulung tersebut terlihat sangat girang mengemasi “hadiah” yang diberikan oleh Sarno. Sementara Sarno tersenyum  puas sambil membantunya.

Saya jadi merenung. Jika saat itu saya sedang berada di luar dan melihat pemulung tersebut lewat, mungkin fikiran saya belum tentu seperti Sarno. Sarno dengan cepat mengingat barang-barang bekas di gudang  dan menganggap barang-barang tersebut akan berguna bagi si pemulung. Dalam urusan kepekaan hati, saya kalah jauh dibanding Sarno.

Saya juga kalah jauh dibanding pemulung tersebut. Berjalan tertatih dengan satu tangan memegang alat bantu jalan dan satu tangan menggendong karung, dia tetap menjalani semuanya dengan semangat. Terlihat dari raut wajahnya yang jenaka dan cerah. Sedangkan saya, terkadang ogah-ogahan menjalani rutinitas kerja.

Jika di Indonesia ada lebih banyak lagi orang seperti Sarno dan Sang Pemulung, sepertinya negeri ini akan jauh lebih baik.

Indonesia To Blog -Top Site .