Saling Memaki, Pantaskah?

Selesai ngulik theme salah satu blog, saya menunggu kantuk sambil blogwalking mengikuti petunjuk Mbah Google. Mengelana kemana-mana, membaca beragam wacana, hingga akhirnya menemukan beberapa halaman yang cukup membuat miris untuk dibaca.

Saya sendiri lupa darimana saya masuk hingga akhirnya terdampar di sana. Saya menemukan beberapa blog yang menjadi ajang diskusi dan adu pendapat, sayangnya adu pendapat tersebut banyak “dihiasi” kata-kata berisi hinaan, cercaan, dan makian dari para pemberi komentar. Tanpa ujung, debat hingga berkarat, dari mulai topik MLM sampai masalah agama. Miris, debat-debat kasar tersebut dilakukan di media publik yang dapat dibaca oleh siapapun.

Saya langsung teringat pada adik saya di kampung halaman. Dia baru duduk di bangku SLTP dan sedang asyik-asyiknya mengenal internet. Bagaimana jika adik saya membaca komentar-komentar dan catatan berisi hujatan-hujatan kasar tersebut? Jelas merupakan sebuah contoh yang sangat buruk. Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu, salah satu blog saya “diserang” caci maki bernuansa SARA. Setelah saya selidiki, ternyata pelakunya adalah beberapa pelajar yang sedang mengakses internet di kelas saat mata pelajaran yang berkaitan dengan budi pekerti.

Saya bukan ant debat, saya juga senang bertukar fikiran. Kebetulan saya tinggal di lingkungan yang majemuk dalam banyak hal. Saya memiliki agama, prinsip, pendirian, simpati pada salah satu partai politik, telah memiliki ketetapan untuk memilih salah satu capres, dan lain-lain. Sampai saat ini saya masih tetap menganggap agama saya, prinsip saya, pendirian saya, simpati saya pada partai politik tertentu, dan pilihan saya terhadap salah satu capres adalah pilihan yang tepat karena saya memiliki alasan sendiri. Namun saya tidak menganggap mereka yang tidak sama dengan saya sebagai orang yang salah dan patut dicaci maki.

Kadang-kadang saya juga kritis, bersuara saat melihat sesuatu yang saya anggap salah. Namun saya juga masih membuka fikiran, sesuatu yang saya anggap salah belum tentu memang sebenarnya salah. Siapa tahu justru saya yang salah.

Guru Ekonomi saya di SMA pernah berkata; “Ada saatnya kita membuka fikiran, ada saatnya kita mati-matian membela keyakinan, ada juga saatnya kita mengakui kesalahan.”

Hoaahemm… mulai ngantuk… sekian dulu meracaunya.

Catatan Lain

    Kata Kunci
    hingga, lerry bengkulu, pantaskah bengkulu kota pelajar, perdebatan agama di dunia maya

    22 Komentar

     

    1. IHSAN says:

      iya saya juga pernah baca yang kacau2an kaya gitu

      dan sudah pasti korban dari semua itu adalah orang2 yang baru mengenal dunia internet dengan segala bayang2 yang enak, justeru dihadapkan dengan masalah kaya gituan

      plus yang komen di situs konrevesial kaya gitu, wuihhhhhhh banyak sekali dengan kata2 khas masih blogger, dari yang identitas jelas hingga anonim

      dan pemilik blog tidak menghapusnya.

      orang yang belum pengalaman dalam dunia internet akan menjadi korban ketidaktahuan, saya sendiri masih membimbing adik atau keluarga saya yang lain yang baru tahu internet supaya hal2 yang pernah menipu saya tidak terjadi pada mereka.

      Yang saya sayangkan, perdebatan-perdebatan tersebut dapat diakses segala kalangan. Mereka yang tidak berniat ikut campur juga jadi “panas” dan akhirnya ikut-ikutan. Akhirnya yang ada bukan debat, melainkan ajang caci maki.

    2. Vanessa says:

      Pendapat boleh beda.. tp cara penyampaiannya harus benar. Trus itu, ga usah maen memaksakan pendapat segala la..

      Betul, adu argumen yang tanpa disertai saling memaki dan menghina akan terlihat lebih menarik daripada menyemburkan nama-nama penghuni kebun binatang ;))

    3. stan says:

      wah gak pantas kalo memaki..jelas 2 itu gak boleh ama agama ama norma ama adat..kan gitu ya mas.
      beda itu wajar…kalo sama ya gak asyik nih
      Yups.. he he he

    4. Rifaabe says:

      Kalo saya mah sudah nggak kaget lagi sama yang begituan, sudah sering nemuin, dan anehnya saling serang itu dilakukan oleh bloger-bloger yang sudah dikenal, sory ya nggak ngasih alamatnya. Bukannya ngasih contoh yang baex malah bikin panas aja.

      Jangan ikut panas, Mas. Nanti mateng lho =))

    5. flower says:

      yah begitulah resiko hidup di jaman edan

    6. kerudung says:

      Jaman sekarang sangat susah sekali warga negara untuk akur. Lihat saja kalo kita di jalan raya terutama di kota jakarta, mesti banyak2 sabar kalo ga sabar udah berantem mulu kali tiap hari

    7. karir pria says:

      Benar mas..seharusnya kita di dunia blogger hindari perdebatan..Seharusnya dunia blogger itu merupakan dunia persahabatan dan perdamaian (he3x..kelihatan bijak ya)

      Perdebatan tetap perlu untuk saling bertukar fikiran, namun tentunya dengan cara yang benar 8->

    8. asrizal says:

      dunia blogger adalah dunia berbagi inspirasi, jikalau memang perdebatan, tentunya dalam hal-hal yang bersifat menggali permasalahan dan menemukan solusinya…

    9. Saat Emosi mengalahkan Akal Sehat, dunia terasa gelap dan hanya kita yang benar..
      Mudah2an kita blogger2 dapat lebih mendinginkan kepala

    10. salam bossss… diskusi itu baik, kalau saling cerca itu kurang baik, bahkan tdk baik sama sekali

    11. menghina….??
      kok tega…..?!
      :(

    12. benar mas, menurut saya tidak perlu kasih komentar yang akan berupa hinaan atau cacian.

      Yang terpenting didunia blogging adalah menjalin persahabatan dan persaudaraan.

    13. angga weblog says:

      Saya heran kenapa banyak orang Indonesia kalau berdebat suka mengutuk, mencerca, menghina, mengeluarkan kata2 tidak pantas dsb…
      Pantesan aja demokrasi kita amburadul :(

    14. dari awal mula dunia…gw juga kagak suka yang namanya debat. Debat pasti membawa perselisihan.
      Ambil aja coba debat capres..walaupun kelihatan baik2 saja…tapi kita tidak tau apa yg terjadi di dalam hati mereka..

    15. amin says:

      beda argumen ta masalah
      tapi sesuai dengan tempatnya.
      di dunia maya/blogger seharusnya bisa buat sharing bukan buat perdebatan
      kita sbg orang blogger seharusnya saling menghargai bukan saling mencaci maki.
      mungkin tu buat masukan aja
      berjayalah buat para blogger

    16. nudin says:

      tempat forum itu buat saling tukar pendapat
      dan tukar ilmu
      bukan malah wat perdebatan yang ga jelas apa lagi yang nyleneh2..
      kita bangkitkan para blogger buka seperti itu tujuan kita
      hidup blogger mania

    17. Point terakhir yang mengakui kesalahan itu yang susah, apalagi mengakui kekalahan :D bener gak mas?

      hehe.. begitulah.. setiap manusia memiliki ego masing-masing :D

    18. harusnya moderator / admin yang punya forum/blog punya kebijaksanaan tersendiri untu menampilkan komentar yang bisa di tampilkan atau tidak . itu kalo menurut saya lho…. :)

    19. mobil bekas says:

      Dimedia dengan kebebasan berpendapat seperti Internet ini memang dibutuhkan kedewasaan dan etika dari masing-masing individu. Semua pihak yang berani melontarkan wacana atau pendapat harus memikirkan efeknya bagi diri sendiri, orang lain maupun semua pembaca. Mari kita menjadi Blogger yang dewasa, bermartabat dan bertanggung jawab. :)

    20. ewe says:

      jangan ditiru deh…ga ada baiknya juga buat kesehatan…serius..

      buat apa diperdebatkan kalo masih bisa dimusyawarahkan.. heheh

    21. ewe says:

      mampir lagi nih..saya uda pindah rumah sekarang…yang punya kemana ya??kok ga ada balesan..

      He he he… sempat kesulitan mengakses blog sendiri, jadi saya sempat tidak bisa mengelola Vaseppi. Terima kasih sudah mampir lagi :-B

    Berikan komentar

    Anda dapat menggunakan Yahoo Emoticons dalam menulis komentar