Mar 09
27
Pelajaran Dari Seorang Paman
Sebut saja nama paman saya ini adalah Paman Gober. Beberapa tahun yang lalu kehidupan Sang Paman terlihat sangat mapan. Bahkan saya sempat ikut kerja pada beliau dan merasakan gaji pertama dari hasil keringat (dalam arti harfiah) saya sendiri.
Lalu belakangan ini perjalanan hidup beliau berubah drastis. Kelengahannya dalam mengatur keuangan dan sifatnya yang gelap mata dalam menikmati harta benda membuat Sang Paman terjerat hutang dan kehilangan harta bendanya secara drastis. Main petak umpet dengan para penagih hutang, kehilangan kepercayaan banyak orang, dan sempat menjadi bahan gunjingan saudara dan tetangga.
Semua itu menyudutkan beliau, namun sepertinya goncangan ini membawa efek baik di sisi lain. Sang Paman kini banyak menghabiskan waktunya di mushalla kecil di dekat rumah. Anak-anak kecil (termasuk kedua adik saya) menjadi semakin semangat untuk shalat di mushalla karena Sang Paman sering mengajak mereka memasak nasi liwet, berziarah ke makam-makam ulama, dan mendongeng tentang banyak hal. Secara alami, Sang Paman memang memiliki bakat untuk disukai anak-anak.
Sore ini, saya dikagetkan oleh kemunculan tiba-tiba Sang Paman. Ternyata beliau sedang berkeliling mengunjungi saudara dan tetangga yang bekerja dan berdomisili di Jakarta sambil membawa sebuah misi: Mengumpulkan sumbangan bagi proyek perbaikan mushalla kami di kampung.
Sang Paman yang sebelumnya dicemooh dan digunjingkan orang akibat kesalahan-kesalahannya ternyata telah memulai cerita baru. Musibah yang beliau alami memberikan hikmah tersendiri dan membuatnya menjadi lebih baik.
Pelajaran baru bagi saya. Dan saya tidak mau dihantam musibah terlebih dahulu untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Ade W Hakim adalah seorang pengguna internet yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjelajahi dunia maya dan memutuskan untuk menjadikan dunia maya sebagai sumber mata pencahariannya. Mengumpulkan recehan, sen demi sen penghasilan dari 

