Sarno dan Pemulung
June 30, 2008 – 5:26 pmSarno adalah penjaga rumah di tempat saya bekerja. Calon ayah yang baru berusia 25 tahun ini baru bekerja selama 4 bulan di sini. Berasal dari desa, dengan pola fikir sederhana yang membuatnya seperti selalu menikmati hidup dalam kondisi apapun.Dia pernah punya cita-cita yang –sayangnya– tidak tercapai, yaitu menjadi seorang Satpam. Saking terobsesinya, Sarno pernah meminta saya untuk memotretnya yang sedang mengenakan seragam Satpam pinjaman. Pak Solah yang akut penyakit usilnya bahkan memajang hasil cetak foto tersebut di pintu ![]()
Sore ini, saat saya sedang asyik mengotak-atik salah satu blog, Sarno yang sedang mencuci mobil tiba-tiba berlari masuk dan langsung menuju ke gudang. Dia keluar membawa sekarung lebih botol dan barang-barang bekas. Tertarik dengan apa yang sedang dia lakukan, saya mengikutinya keluar.
Ternyata barang-barang bekas tersebut dia berikan kepada seorang pemulung yang hanya memiliki satu kaki. Pemulung tersebut terlihat sangat girang mengemasi “hadiah” yang diberikan oleh Sarno. Sementara Sarno tersenyum puas sambil membantunya.
Saya jadi merenung. Jika saat itu saya sedang berada di luar dan melihat pemulung tersebut lewat, mungkin fikiran saya belum tentu seperti Sarno. Sarno dengan cepat mengingat barang-barang bekas di gudang dan menganggap barang-barang tersebut akan berguna bagi si pemulung. Dalam urusan kepekaan hati, saya kalah jauh dibanding Sarno.
Saya juga kalah jauh dibanding pemulung tersebut. Berjalan tertatih dengan satu tangan memegang alat bantu jalan dan satu tangan menggendong karung, dia tetap menjalani semuanya dengan semangat. Terlihat dari raut wajahnya yang jenaka dan cerah. Sedangkan saya, terkadang ogah-ogahan menjalani rutinitas kerja.
Jika di Indonesia ada lebih banyak lagi orang seperti Sarno dan Sang Pemulung, sepertinya negeri ini akan jauh lebih baik.

