Recehan dari Ziddu

May 23, 2008 – 3:08 pm

Upload, Share, Earn

Anda sering berbagi file di website atau forum? Ada salah satu penyedia layanan file hosting gratisan yang bisa Anda gunakan untuk menyimpan dan membagikan file-file Anda, namanya Ziddu.

Berbeda dengan Rapidshare, Ziddu tidak memberlakukan batasan-batasan yang sering merepotkan saat ingin mendownload file. Selain itu, Anda dapat mengorganisir dan membuat album untuk file musik, gambar dan video.

Satu berita baik lagi, selain gratis, Anda juga berpeluang mendapatkan penghasilan tambahan $-). Ziddu memberikan komisi dari setiap file yang didownload dan dari setiap member baru yang Anda referensikan. Komisi akan dikirimkan melalui Paypal setelah terakumulasi minimal $10.

Tertarik?
Silahkan mendaftar di sini.

Final Piala Uber: Tiket Pada Kemana?

May 18, 2008 – 12:26 pm

Hasil oleh-oleh saat ikut mengantri tiket pertandingan final Uber Cup tadi malam.

Foto 1 Foto 2
Foto 3 Foto 4
Klik Gambar Untuk Memperbesar

Para pengantri tiket yang berdiri di barisan depan adalah mereka yang telah antri sejak matahari belum terbangun, dan mereka rela dihantam panas, letih, haus demi mendapatkan tiket untuk menyaksikan aksi srikandi-srikandi Badminton Indonesia berlaga di final. Tak satupun aparat keamanan maupun panitia melongok untuk memberi informasi jam berapa loket dibuka, atau sekedar mencari tahu keadaan mereka.
Loket dibuka pukul 13.00, tiket ludes dalam hitungan menit. Saya yang tidak ikut mengantri, hanya melihat beberapa orang yang berhasil membeli tiket tersebut. Anggaplah ada seratus orang yang berhasil membeli tiket dan masing-masin dari mereka membeli dua lembar tiket (batas maksimal yang ditetapkan panitia), jadi apakah loket tersebut hanya menjual 200 tiket? Lalu di mana lagi tiketnya dijual?

Ada salah seorang pembeli tiket “jalan belakang” yang mengaku membeli tiket dari salah seorang aparat kemanan seharga Rp. 125.000. Jadi sejak kapan aparat kemanan berfungsi ganda sebagai penjual tiket? Dengan harga yang mahal pula… :-j

Antisipasi panitia terhadap membludaknya pembeli tiket juga Nol Besar, sama sekali tidak mempedulikan nasib mereka yang dengan penuh semangat berdiri dalam antrian –yang lebih tepat disebut kerumunan– dari pagi buta hingga siang, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan yel yel penyemangat, berdesak-desakan hingga beberapa diantaranya ada yang jatuh pingsan. Bahkan di antrian sebelah kanan, para pembeli yang telah berhasil mendapatkan tiket harus keluar dari barisan dengan menaiki pagar setinggi 2 meter karena tidak ada jalan keluar (lihat foto-foto di atas).

Lagi-lagi rakyat kecil dikesampingkan. Jika memang saat itu panitia hanya menjual sedikit tiket –entah sebagian besarnya dijual melalui jalur apa– mengapa masih tega membiarkan rakyat kecil mengantri seperti itu? Ini adalah event Internasional, Bung!

Indonesia To Blog -Top Site .