Film Garuda Di Dadaku


Anda para penikmat film dan pencinta sepak bola sepertinya tidak boleh ketinggalan film ini. Garuda Di Dadaku. Film yang bercerita tentang mimpi seorang bocah kelas 6 SD bernama Bayu untuk menjadi seorang pemain sepak bola hebat. Walaupun ditentang kakeknya –Pak Usman–, Bayu dibantu dua sahabatnya –Heri dan Zahra– selalu mencari-cari kesempatan untuk berlatih dan kemudian menggapai mimpi pertamanya, lolos seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional.

Di situs resminya –www.garudadidadaku.com–, film yang diproduksi oleh Sbo Films dan Mizan Productions (ingat film Laskar Pelangi? ;) ) ini akan dirilis tanggal 18 Juni 2008. Dibintangi sederet nama seperti Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Maudy Koesnaedi, Ary Sihasale, Ramzi dan disutradarai oleh Ifa Isfansyah.

So, jangan lupa tanggal 18 Juni ;;)

Akhirnya iPhone datang Juga


iPhone 3G 16GB

iPhone 3G 16GB

Akhirnya setelah menunggu 1,5 bulan-an, iPhone yang merupakan hadiah dari IIX Media sampai juga ke tangan saya. Hari Sabtu kemarin saya dikabari Mas Ahlul bahwa iPhone sudah ready dan dapat diambil pada hari Selasa. So, hari Selasa saya meluncur ke Cyber Building - Kuningan untuk mengambil hadiah tersebut, bertemu dengan Pak Leonardus dan … (aduh, saya lupa menanyakan nama rekan Pak Leo :( ).

Agak kaget juga saat melihat Pak Leo dan rekannya ternyata masih muda, namun hal itu justru menghilangkan kikuk saya yang sempat menerjang. Karena kami berasal dari “generasi” yang sama, situasi menjadi cepat akrab dan lebih santai. Setelah beramah-tamah, wawancara ringan, dan proses dokumentasi singkat, saya pun akhirnya pamit dan pulang bersama iPhone baru saya :D

iPhone tersebut dibeli dari Singapura dan sudah unlocked, jadi tidak memiliki ikatan dengan Telkomsel dan dapat digunakan oleh semua GSM. Hal ini memudahkan saya, karena saya bukan pengguna produk telkomsel :p , simcard Three saya resmi pindah rumah dari Nokia 5700 ke iPhone baru. Agak ringkih menggenggam ponsel yang di Indonesia dibanderol seharga laptop ini, tampilannya minimalis tanpa banyak tombol dan terlihat elegan (tapi mudah kotor karena sidik jari mudah menempel di permukaannya yang licin).


Klik gambar untuk melihat ukuran penuh

Rencananya saya akan menulis review dan mencari tahu apakah harga yang selangit sesuai dengan fitur dan fungsinya, insya Allah review tersebut akan saya publikasikan pada catatan berikutnya.

Thanks for IIX Media yang sepertinya saat ini menjadi satu-satunya penyedia layanan webhosting yang memberikan hadiah iPhone 16GB bagi konsumennya.

Foto diambil dari http://iixmedia.com/blog/

Saling Memaki, Pantaskah?


Selesai ngulik theme salah satu blog, saya menunggu kantuk sambil blogwalking mengikuti petunjuk Mbah Google. Mengelana kemana-mana, membaca beragam wacana, hingga akhirnya menemukan beberapa halaman yang cukup membuat miris untuk dibaca.

Saya sendiri lupa darimana saya masuk hingga akhirnya terdampar di sana. Saya menemukan beberapa blog yang menjadi ajang diskusi dan adu pendapat, sayangnya adu pendapat tersebut banyak “dihiasi” kata-kata berisi hinaan, cercaan, dan makian dari para pemberi komentar. Tanpa ujung, debat hingga berkarat, dari mulai topik MLM sampai masalah agama. Miris, debat-debat kasar tersebut dilakukan di media publik yang dapat dibaca oleh siapapun.

Saya langsung teringat pada adik saya di kampung halaman. Dia baru duduk di bangku SLTP dan sedang asyik-asyiknya mengenal internet. Bagaimana jika adik saya membaca komentar-komentar dan catatan berisi hujatan-hujatan kasar tersebut? Jelas merupakan sebuah contoh yang sangat buruk. Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu, salah satu blog saya “diserang” caci maki bernuansa SARA. Setelah saya selidiki, ternyata pelakunya adalah beberapa pelajar yang sedang mengakses internet di kelas saat mata pelajaran yang berkaitan dengan budi pekerti.

Saya bukan ant debat, saya juga senang bertukar fikiran. Kebetulan saya tinggal di lingkungan yang majemuk dalam banyak hal. Saya memiliki agama, prinsip, pendirian, simpati pada salah satu partai politik, telah memiliki ketetapan untuk memilih salah satu capres, dan lain-lain. Sampai saat ini saya masih tetap menganggap agama saya, prinsip saya, pendirian saya, simpati saya pada partai politik tertentu, dan pilihan saya terhadap salah satu capres adalah pilihan yang tepat karena saya memiliki alasan sendiri. Namun saya tidak menganggap mereka yang tidak sama dengan saya sebagai orang yang salah dan patut dicaci maki.

Kadang-kadang saya juga kritis, bersuara saat melihat sesuatu yang saya anggap salah. Namun saya juga masih membuka fikiran, sesuatu yang saya anggap salah belum tentu memang sebenarnya salah. Siapa tahu justru saya yang salah.

Guru Ekonomi saya di SMA pernah berkata; “Ada saatnya kita membuka fikiran, ada saatnya kita mati-matian membela keyakinan, ada juga saatnya kita mengakui kesalahan.”

Hoaahemm… mulai ngantuk… sekian dulu meracaunya.